masukkan script iklan disini
TANTANG TERBUKA! KETUA LSM KCBI INSAN BANUREA: OKNUM TOKOH BUDAYA YANG MENUDING "TIRIS TONGKARANG" HARUS BERANI JELASKAN DEFINISINYA
Dairi, – Ketua LSM Kemilau Cahaya Bangsa Indonesia (KCBI) Kabupaten Dairi, Insan Banurea, memberikan tantangan secara terbuka kepada oknum tokoh budaya Pakpak lintas budaya yang menyebutkannya "tiris tongkarang". Ia menuntut pihak tersebut untuk berani menguraikan secara keseluruhan dan menjelaskan definisi dari sebutan tersebut.
"PERNYATAAN TERSEBUT MERUPAKAN DURI UNTUK GENERASI MUDA"
Sebagai generasi muda dari Mpubada dan juga pengiat budaya lokal, Insan Banurea menilai bahwa ucapan oknum tokoh tersebut sangat merugikan. "Pernyataan itu terkesan mengkerdilkan cara berfikir generasi muda kedepan," tegasnya.
Kronologi bermula ketika LSM KCBI secara resmi memberikan dukungan hukum kepada Syahdan Sagala dan istrinya Morita Bintang. Justru dengan tindakan kepedulian itu, Insan Banurea dituduh mengapa mendukung pihak Suku Toba bukan Pakpak. Tuduhan ini muncul dalam tulisan yang diterbitkan di grup WhatsApp Forum Penyelamat Tanah Ulayat Pakpak.
"INI TENTANG HAM, BUKAN HAK ULAYAT ATAU ISSU SARA"
Insan Banurea dengan tegas menyatakan bahwa kasus yang ditangani LSM KCBI tidak terkait dengan hak ulayat, melainkan tentang hak asasi manusia. "Berdasarkan investigasi tim kami, Syahdan Sagala layak mendapatkan perhatian dan pengawalan kasus yang dialaminya," jelasnya.
Ia juga menegaskan bahwa konflik antara Syahdan Sagala dengan Nuridah Puspa Pasi tidak ada hubungan apapun dengan kasus kesukuan kedua belah pihak. "Jangan memperkeruh keadaan dengan menggiring ke issu SARA. Hal ini tidak mencerminkan kepribadian seseorang tokoh," pungkasnya.
"KENAPA HANYA MUNCUL SETELAH ADA PERLAWANAN?"
Insan Banurea mengajukan pertanyaan tajam kepada oknum tokoh tersebut: "Jika benar risih dengan pertikaian, mengapa tidak muncul saat situasi belum mengembang? Seharusnya turun gunung, temui kedua belah pihak, dan selesaikan secara adat dengan ketokohan yang dimiliki."
Ia menambahkan, "Mengapa setelah pihak Syahdan melakukan perlawanan, seolah-olah anda kebakaran jenggot?"
UPAYA MEMULIHKAN NAMA BAIK DAN MEMBERIKAN MAKNA BENAR KEPADA MASYARAKAT
Insan Banurea menjelaskan bahwa langkahnya ini merupakan bentuk kepedulian kepada publik agar tidak salah mengkonsumsi pernyataan oknum tokoh tersebut. Selain itu, tindakan ini juga untuk memulihkan nama baiknya di mata masyarakat, mengingat dirinya juga merupakan salah satu pengiat budaya lokal yang peduli terhadap perkembangan daerah.
"Saya menantangnya untuk berani menjelaskan apa makna sebenarnya dari 'tiris tongkarang' yang disampaikannya. Jangan hanya menyatakan sesuatu tanpa dasar yang jelas," tandas Insan Banurea.









Tidak ada komentar:
Posting Komentar