Medan -Pemilik Kios Jamu Tradisional Meninggal Saat Pemeriksaan • Keluarga Terpukul.
Duka mendalam menyelimuti sebuah keluarga kecil di Medan. Sulaiman, seorang pria pemilik kios jamu tradisional yang sehari-hari berjuang menghidupi keluarganya, menghembuskan napas terakhir saat menjalani pemeriksaan di Kantor Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Medan, yang beralamat di Jalan Williem Iskandar, Kecamatan Percut Sei Tuan. Kepergiannya meninggalkan luka yang dalam—seorang istri yang kini berdiri seorang diri menopang tiga buah hati mereka.
Kabar duka ini segera menarik perhatian tim investigasi media yang turun langsung ke lapangan, menemui keluarga korban dan menyaksikan kondisi nyata usaha yang selama ini menjadi sumber penghidupan keluarga Sulaiman.
Kepergian suami sudah kami anggap sebagai takdir. Kami tidak ingin masalah bertambah. Yang terpenting sekarang adalah anak-anak.
— Istri Sulaiman, saat wawancara investigasi di kios jamu
Keluarga Memilih Diam
Setelah tim investigasi melakukan pendekatan langsung kepada pihak keluarga, diperoleh keterangan bahwa keluarga korban memilih untuk tidak melanjutkan persoalan ini ke ranah hukum. Keputusan tersebut bukan tanpa alasan—sang istri mengaku khawatir akan dampak yang mungkin timbul di kemudian hari jika perkara ini dipermasalahkan lebih jauh.
Dengan berat hati, istri Sulaiman menerima kepergian suaminya sebagai takdir Tuhan. Kini, perempuan tangguh itu sendirian memikul tanggung jawab membesarkan tiga orang anak: satu anak masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD), sementara dua anak lainnya tengah menempuh pendidikan tinggi di perguruan tinggi. Beban hidup yang tidak ringan, namun ia bertekad untuk terus melanjutkan perjuangan demi masa depan anak-anaknya.
✦
Realita Usaha yang Sesungguhnya
Tim investigasi media turut menyambangi lokasi usaha yang selama ini disebut sebagai "toko jamu." Namun kenyataan di lapangan berbicara lain. Usaha tersebut jauh dari skala toko—lebih tepatnya sebuah kios kecil sederhana yang berdiri dengan segala keterbatasannya.
Dalam wawancara langsung di kios tersebut, istri Sulaiman mengungkapkan bahwa mereka hanya berperan sebagai pedagang eceran—membeli jamu dari pemasok lalu menjualnya kembali kepada konsumen. Tidak ada keistimewaan, tidak ada fasilitas modern. Hanya sebuah kios kecil yang kini menjadi satu-satunya tumpuan harapan bagi istri Sulaiman untuk membiayai kehidupan dan pendidikan anak-anaknya.
Profil Keluarga Sulaiman
Usaha: Kios jamu tradisional, skala pedagang eceran
Riwayat penyakit: Hipertensi dan gangguan lambung (maag)
Meninggal saat: Pemeriksaan di Kantor BPOM Medan
Istri: Kini meneruskan usaha seorang diri
Anak pertama: Masih Sekolah Dasar (SD)
Anak kedua & ketiga: Sedang kuliah di perguruan tinggi
Bantuan UMKM pemerintah: Tidak ada hingga saat ini
Riwayat Penyakit & Dugaan Penyebab
Berdasarkan keterangan keluarga, diketahui bahwa almarhum Sulaiman sebelumnya memang telah memiliki riwayat penyakit hipertensi dan gangguan lambung (maag). Dua kondisi medis yang kerap kali sensitif terhadap tekanan fisik maupun psikologis.
Tim investigasi menduga, kondisi yang terjadi selama proses pemeriksaan di kantor BPOM—entah berupa tekanan psikologis yang memicu kambuhnya hipertensi, ataupun durasi pemeriksaan yang terlalu panjang hingga menyebabkan kambuhnya gangguan lambung—menjadi faktor yang memperparah kondisi kesehatan Sulaiman hingga berujung pada meninggalnya beliau. Dugaan ini masih memerlukan kajian dan klarifikasi lebih lanjut dari pihak-pihak yang berwenang.
Catatan Kritis Tim Investigasi
Yang memprihatinkan, hingga saat berita ini diturunkan, usaha kios jamu milik keluarga Sulaiman belum pernah menerima sentuhan bantuan apapun dalam bentuk program UMKM dari pihak pemerintah. Padahal, berdasarkan pantauan langsung tim di lapangan, usaha tersebut dinilai sudah seharusnya dan sangat layak untuk mendapatkan perhatian serta dukungan dari pemerintah—baik berupa modal usaha, pelatihan, maupun fasilitasi legalitas produk. Ironis, ketika justru dalam urusan legalitas itulah nyawa pemiliknya melayang.
✦
Kini, seorang istri yang ditinggal berdiri tegar di balik meja kios kecilnya—menjajakan botol demi botol jamu, sambil dalam hatinya menyimpan luka yang tak terucap. Ia berharap agar anak-anaknya bisa terus mengenyam pendidikan, dan berharap suatu hari ada pihak yang peduli, melihat perjuangan kecilnya yang sunyi ini.
Kisah Sulaiman bukan sekadar berita. Ini adalah cermin dari ribuan pedagang kecil yang setiap hari berjuang tanpa perlindungan yang memadai—dan berharap agar sistem yang seharusnya melindungi mereka, tidak justru menjadi beban yang mengakhiri segalanya.(Team).
Tim Investigasi Media • Medan, Sumatera Utara • Laporan Investigasi Lapangan.













Tidak ada komentar:
Posting Komentar