masukkan script iklan disini
MEDAN – Euforia Musda XI Golkar Sumatera Utara telah usai. Terpilihnya Andar Amin Harahap secara aklamasi adalah kemenangan demokrasi prosedural, namun tantangan substansial baru saja dimulai. Sebagai akademisi yang membedah anatomi politik Sumatera Utara dengan pisau analisis sosiologis, saya mengirimkan sinyal peringatan keras (early warning system) ke Kantor DPP Golkar di Slipi, Jakarta.
Ketua Umum Bahlil Lahadalia, dengan segala visi besar "Raja Jawa"-nya, berada di persimpangan jalan yang berbahaya. Jika DPP salah menempatkan figur Sekretaris DPD untuk mendampingi Andar, maka target kemenangan 2029 hanyalah ilusi statistik.
Berdasarkan analisis Big Data elektoral dan pemetaan sosiologi konflik pasca-Musda, sains politik menunjuk pada satu kesimpulan tak terbantahkan:
Sekretaris DPD Golkar Sumut Wajib Diambil dari Klaster 'Segitiga Emas'.
Mengambil nama di luar daftar ini adalah bunuh diri politik.
Mengapa? Mari kita bicara data, bukan sentimen.
1. Aksioma Komplementer Wilayah (Faktor Erni Sitorus) Andar Amin Harahap adalah "Raja" di Tapanuli Bagian Selatan. Namun, Sumut bukan hanya Tapanuli. Data KPU berbicara jujur: lumbung suara terbesar ada di Pantai Timur. Erni Ariyanti Sitorus bukan sekadar politisi perempuan; dia adalah fenomena elektoral dengan 114.492 suara sah pribadi. Mengabaikan Erni berarti membuang potensi logistik dan suara riil yang mampu menggaransi 20% kenaikan kursi Golkar. Ini adalah Scientific Vote-Getting.
2. Prinsip Memori Institusional (Faktor Rolel) Partai modern butuh teknokrat, bukan hanya orator. Rolel membawa stabilitas birokrasi yang tak ternilai. Pengalamannya memimpin KNPI Sumut, Wakil walikota Tanjung Balai, Anggota DPRD Tanjung Balai dan struktur partai menjadikannya "Ensiklopedia Berjalan" Golkar Sumut. Di tengah kesibukan Andar di Jakarta, Rolel adalah garansi bahwa mesin partai tetap menyala 24 jam.
3. Mastermind System (Faktor Irham Buana Nasution) Menguasai medan pertempuran "senyap". Pengalamannya memimpin KPU memberinya visi sinar-X terhadap potensi kecurangan dan regulasi pemilu. Latar belakang LBH-nya memberinya keberanian advokasi—Menjadikan Irham sebagai Sekretaris sama dengan memasang "Sistem Anti-Rudal" bagi Golkar Sumut. Administrasi rapi, sengketa hukum teratasi, strategi pemilu taktis. Ini adalah pilihan Cerdas.
🔥 Ultimatum Intelektual
Bahlil Lahadalia dikenal sebagai pemimpin yang menghargai kinerja dan data. Maka, data ini tersaji jelas di meja Anda. Memaksakan figur "titipan" yang tidak memiliki akar (rootless) atau figur yang tidak kompatibel dengan Andar hanya akan memicu disharmoni elit dan apatisme akar rumput.
Rumus Matematika Politiknya jelas:
Andar + (Erni/Rolel/Irham)
= Dominasi Mutlak.
Di luar rumus itu, bersiaplah untuk stagnasi.(Awan)







Tidak ada komentar:
Posting Komentar