masukkan script iklan disini
Oleh: Muhammad Mas'ud Silalahi, S.Sos (Aktivis Sosial-Politik)
Perjalanan hidup seseorang sering kali menjadi cermin tentang bagaimana kekuasaan dapat digunakan untuk mengabdi atau justru disalahgunakan. Kisah Dadan, mantan Kepala BGN, adalah potret yang layak menjadi pelajaran bagi seluruh pejabat publik di negeri ini.
Dulu, Dadan berdiri di panggung kehormatan negara. Penghargaan dan pengakuan datang menghampiri. Jabatan strategis yang diembannya menempatkan dirinya sebagai sosok yang dipercaya mengelola amanah rakyat. Ia menikmati prestise, pengaruh, dan segala fasilitas yang melekat pada kekuasaan.
Namun sejarah mencatat bahwa kehormatan bukanlah sesuatu yang abadi. Ketika integritas runtuh dan kekuasaan kehilangan kompas moralnya, penghargaan setinggi apa pun tidak akan mampu menyelamatkan seseorang dari konsekuensi hukum. Dari ruang-ruang kebijakan yang megah, perjalanan itu berakhir di balik jeruji penjara.
Peristiwa ini bukan sekadar kejatuhan seorang individu. Ini adalah tamparan keras bagi sistem birokrasi dan pengawasan yang selama ini sering kali terlambat mendeteksi penyimpangan. Masyarakat berhak bertanya: bagaimana seseorang yang pernah dipercaya dan dihormati bisa terjerumus hingga menghadapi proses hukum yang berujung pada pemenjaraan?
Lebih dari itu, kasus ini memperlihatkan bahwa jabatan bukanlah jaminan kemuliaan, dan penghargaan bukanlah sertifikat kebal hukum.
Di hadapan hukum, setiap warga negara harus berdiri pada posisi yang sama. Tidak ada kekuasaan yang cukup besar untuk menghapus jejak penyalahgunaan wewenang, dan tidak ada pengaruh yang cukup kuat untuk mengubur tuntutan keadilan selamanya.
Publik sudah terlalu sering menyaksikan kisah yang sama: ketika kekuasaan berubah menjadi alat memperkaya diri, rakyatlah yang menanggung kerugian. Kepercayaan yang dibangun bertahun-tahun dapat runtuh hanya dalam hitungan hari akibat keserakahan dan pengkhianatan terhadap amanah.
Karena itu, kisah Dadan seharusnya menjadi alarm keras bagi seluruh pejabat negara. Bahwa jabatan adalah titipan, bukan warisan. Bahwa kekuasaan adalah amanah, bukan kesempatan untuk memperkaya diri. Dan bahwa sejarah selalu memiliki cara untuk mengadili mereka yang mengkhianati kepercayaan publik.
Dari bintang jasa menuju jeruji penjara, perjalanan itu mengingatkan kita pada satu kebenaran sederhana: kehormatan sejati tidak ditentukan oleh jabatan atau penghargaan, melainkan oleh integritas yang tetap terjaga ketika seseorang memegang kekuasaan.
(Team)














Tidak ada komentar:
Posting Komentar