• Jelajahi

    Copyright © PK HUKUM
    Best Viral Premium Blogger Templates

    ads

    banner

    Advertise

     

    Ketika Kekuasaan Kehilangan Rasa Malu: Dari Revolusi Prancis, Namrud hingga Fir'aun

    ADMINISTRASI
    Kamis, 13 Agustus 2026, 14.54 WIB Last Updated 2026-08-13T05:54:48Z
    masukkan script iklan disini
    masukkan script iklan disini


    Oleh: Muhammad Mas'ud Silalahi, S.Sos
    Aktivis Sosial-Politik Indonesia

    Ada satu hukum sejarah yang hampir selalu berulang: kekuasaan yang tidak lagi mengenal batas, cepat atau lambat, akan berhadapan dengan batasnya sendiri.

    Sejarah menunjukkan bahwa sebuah rezim jarang tumbang hanya karena satu peristiwa. Keruntuhan biasanya merupakan akumulasi panjang dari ketidakadilan, kesenjangan, kesewenang-wenangan, krisis kepercayaan, buruknya tata kelola, serta rakyat yang terlalu lama dipaksa diam.

    Revolusi Prancis adalah salah satu contoh penting.

    Revolusi yang meledak pada 1789 itu tidak lahir dari ruang kosong. Prancis menghadapi krisis keuangan yang berat, ketimpangan sosial, tekanan pajak, buruknya hasil panen, serta kenaikan harga roti yang semakin menghimpit rakyat. Di tengah keadaan tersebut, gagasan-gagasan Pencerahan tentang kebebasan, hak warga negara dan legitimasi kekuasaan juga semakin berkembang. Ketegangan yang terakumulasi akhirnya berubah menjadi ledakan politik yang mengguncang monarki dan sistem feodal Prancis.

    Karena itu, Revolusi Prancis tidak tepat jika hanya dibaca sebagai cerita tentang kudeta atau pemberontakan yang tiba-tiba. Di belakang ledakan besar itu terdapat proses panjang: gagasan yang tumbuh, keresahan yang menumpuk, kritik yang berkembang, dan rakyat yang akhirnya kehilangan kesabaran terhadap sistem yang dianggap tidak lagi mampu menjawab penderitaan mereka.

    Ada pelajaran penting di sini.

    Kekuasaan harus selalu mendengar sebelum rakyat dipaksa berteriak.

    Sebab ketika kritik dianggap sebagai ancaman, ketika suara masyarakat dianggap gangguan, ketika hukum hanya tajam kepada rakyat tetapi tumpul kepada mereka yang memiliki kekuasaan, maka yang sebenarnya sedang dibangun bukan stabilitas, melainkan bom waktu sosial.

    Namun sejarah juga mengajarkan bahwa perubahan politik yang lahir dari kemarahan dapat memiliki konsekuensi yang sangat kompleks. Revolusi Prancis sendiri kemudian memasuki fase radikal dan Reign of Terror, sebelum akhirnya mengalami perubahan politik berikutnya hingga munculnya Napoleon Bonaparte.

    Artinya, runtuhnya sebuah rezim bukan otomatis berarti lahirnya keadilan.

    Inilah yang sering dilupakan manusia ketika berbicara tentang kekuasaan.

    Namrud: Ketika Kekuasaan Membuat Manusia Lupa Batas

    Dalam perspektif Al-Qur'an, kita menemukan gambaran tentang seorang penguasa yang berdebat dengan Nabi Ibrahim AS.

    Surah Al-Baqarah ayat 258 mengisahkan seseorang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya karena Allah telah memberikan kepadanya kerajaan atau kekuasaan. Ketika Ibrahim mengatakan bahwa Tuhannya adalah Dzat yang menghidupkan dan mematikan, penguasa tersebut membalas dengan klaim bahwa ia pun dapat menghidupkan dan mematikan. Ibrahim kemudian memberikan argumentasi yang tidak mampu dijawabnya: Allah menerbitkan matahari dari timur, maka jika benar memiliki kekuasaan sebagaimana yang diklaim, datangkanlah matahari dari barat. Al-Qur'an menyebut bahwa orang kafir itu kemudian terdiam dan tidak mampu menjawab.

    Dalam sejumlah tafsir, tokoh tersebut diidentifikasi sebagai Namrud/Nimrod. Tafsir Ibn Kathir, misalnya, menjelaskan kisah perdebatan antara Ibrahim dan Namrud serta menggambarkan bagaimana kekuasaan yang diberikan kepadanya justru menjadi sumber kesombongan dan pembangkangan.

    Adapun kisah bahwa Namrud kemudian dihancurkan melalui serangan nyamuk atau serangga kecil merupakan bagian dari riwayat dan penjelasan dalam literatur tafsir klasik, bukan narasi yang disebut secara eksplisit dalam ayat Al-Qur'an. Karena itu, kisah tersebut semestinya ditempatkan sebagai riwayat tafsir, bukan disamakan dengan fakta sejarah yang telah terverifikasi secara independen.

    Tetapi pesan moralnya tetap kuat:

    Sebesar apa pun sebuah kekuasaan, manusia tetap memiliki batas.

    Fir'aun: Kekuasaan yang Berakhir di Laut

    Kisah Fir'aun bahkan lebih tegas dalam Al-Qur'an.

    Fir'aun digambarkan sebagai penguasa yang melakukan kesewenang-wenangan dan menindas. Ketika Nabi Musa AS membawa seruan kepada kebenaran dan pembebasan Bani Israil, Fir'aun mempertahankan kekuasaannya dengan kesombongan.

    Pada akhirnya, ketika Musa dan Bani Israil menyeberangi laut dan Fir'aun bersama pasukannya mengejar mereka dalam kezaliman dan permusuhan, Al-Qur'an menggambarkan bahwa tenggelam akhirnya menimpa Fir'aun. Dalam keadaan tersebut, barulah ia menyatakan keimanannya.

    Ada sebuah pelajaran yang sangat dalam:

    Jangan menunggu kekuasaan berada di ujung kehancuran baru menyadari bahwa manusia tidak pernah benar-benar berkuasa mutlak.

    Ketika kesempatan untuk memperbaiki diri masih terbuka, kesombongan sering membuat penguasa merasa dirinya tidak akan pernah jatuh.

    Padahal sejarah tidak pernah menjamin kekuasaan seseorang akan berlangsung selamanya.

    Kekuasaan Bukan Warisan Abadi

    Dari Revolusi Prancis kita belajar tentang kekuatan akumulasi keresahan sosial.

    Dari kisah Namrud kita belajar tentang bahaya kesombongan ketika kekuasaan membuat seseorang merasa mampu menandingi kebenaran.

    Dari Fir'aun kita belajar bahwa penindasan dan kesewenang-wenangan pada akhirnya dapat membawa manusia menuju kehancurannya sendiri.

    Ketiganya memang berasal dari konteks sejarah dan sumber yang berbeda. Karena itu, kita tidak boleh mencampuradukkannya. Tetapi ketiganya dapat dibaca sebagai cermin moral tentang hubungan manusia dengan kekuasaan.

    Kekuasaan seharusnya menjadi amanah, bukan alat untuk memperkaya diri.

    Jabatan seharusnya menjadi jalan mengabdi, bukan tiket untuk menikmati fasilitas sementara rakyat menanggung beban.

    Hukum seharusnya menjadi panglima, bukan alat untuk melindungi yang kuat dan menghukum yang lemah.

    Dan kritik seharusnya dipandang sebagai alarm demokrasi, bukan otomatis dianggap sebagai musuh negara.

    Sebab sebuah bangsa tidak hancur hanya karena rakyatnya berani mengkritik.

    Bangsa justru berada dalam bahaya ketika penguasanya tidak lagi mau mendengar kritik.


    Jangan Sampai Rakyat Kehilangan Harapan

    Karena itu, ketika korupsi, kriminalitas, penyalahgunaan kekuasaan, ketidakadilan dan perilaku amoral pejabat terus berulang tanpa penyelesaian yang serius, jangan buru-buru menyalahkan rakyat apabila kepercayaan publik mulai runtuh.

    Yang harus ditanyakan terlebih dahulu adalah:

    Mengapa kepercayaan itu hilang?

    Apakah hukum telah benar-benar bekerja?

    Apakah pejabat publik masih merasa memiliki tanggung jawab moral?

    Apakah penderitaan rakyat masih menjadi prioritas?

    Apakah kritik masyarakat didengar?

    Dan yang paling penting: apakah kekuasaan masih merasa takut kepada pertanggungjawaban sejarah?

    Sejarah membuktikan bahwa perubahan besar sering kali dimulai dari sesuatu yang tampak kecil: sebuah gagasan, sebuah kritik, sebuah keberanian untuk berkata tidak, sebuah percakapan di tengah masyarakat, atau suara orang-orang yang sebelumnya dianggap tidak penting.

    Namun kita juga harus belajar bahwa perubahan tidak boleh dibangun hanya dengan amarah.

    Kemarahan tanpa arah dapat melahirkan kekacauan. Kritik tanpa solusi dapat menjadi kebisingan. Tetapi keberanian yang disertai moral, pengetahuan, hukum dan kepedulian terhadap rakyat dapat menjadi energi perubahan.

    Maka tugas masyarakat bukan sekadar mengganti orang yang berkuasa.

    Tugas yang jauh lebih besar adalah membangun sistem yang membuat siapa pun yang berkuasa tidak dapat bertindak sesuka hati.

    Sebab persoalan sebuah bangsa tidak selesai hanya dengan mengganti nama di kursi kekuasaan.

    Yang harus dibangun adalah budaya hukum, integritas, transparansi, kontrol publik, kebebasan menyampaikan kritik, dan pemerintahan yang benar-benar merasa bahwa jabatan adalah amanah.

    Pada akhirnya, kekuasaan akan selalu memiliki masa.

    Tidak ada kursi yang abadi.

    Tidak ada jabatan yang kekal.

    Tidak ada rezim yang bisa memastikan dirinya akan selamanya berdiri.

    Yang tersisa setelah semuanya berlalu hanyalah jejak perbuatan dan penilaian sejarah.

    Karena itu, kepada siapa pun yang sedang memegang kekuasaan, pesan sejarah sebenarnya sederhana:

    Jangan takut kepada rakyat yang mengkritik. Takutlah ketika rakyat sudah tidak lagi berharap.

    Sebab ketika harapan hilang, kepercayaan runtuh, dan ketidakadilan terus dipelihara, sejarah dapat bergerak dengan caranya sendiri.

    Dan ketika sejarah bergerak, tidak ada satu pun manusia yang mampu memerintahnya untuk berhenti.

    Allahu a'lam bish-shawab...(Team)
    Komentar

    Tampilkan

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar

    Terkini

    NamaLabel

    +