masukkan script iklan disini
Oleh: Muhammad Mas'ud Silalahi, S.Sos
(Pengasuh Rumah Qur'an dan Peradaban)
MEDAN, KAMIS 04 JUNI 2026 - Di tengah derasnya arus informasi dan semangat perubahan sosial yang berkembang saat ini, banyak orang berlomba-lomba menyampaikan kebenaran. Mimbar-mimbar dipenuhi seruan moral, media sosial dibanjiri nasihat, dan berbagai forum menjadi tempat pertarungan gagasan. Namun, ada satu hal yang sering terlupakan: kebenaran tidak cukup hanya disampaikan dengan logika, tetapi juga membutuhkan logistik.
Logika kebenaran adalah fondasi pemikiran yang membimbing manusia menuju jalan yang benar. Namun, logistik adalah instrumen yang memungkinkan pesan itu sampai kepada masyarakat secara efektif, berkelanjutan, dan menyentuh kebutuhan nyata umat. Ketika logika kebenaran dipisahkan dari logistik perjuangan, maka yang lahir bukanlah peradaban yang kokoh, melainkan kegaduhan sosial yang berpotensi melahirkan anarkisme.
Sejarah Islam memberikan pelajaran yang
sangat berharga. Para nabi dan sahabat tidak hanya berbicara tentang kebenaran, tetapi juga mengorbankan harta benda dalam jumlah besar demi memastikan dakwah dapat berjalan. Dakwah bukan sekadar retorika, melainkan gerakan peradaban yang membutuhkan pengorbanan ekonomi, tenaga, waktu, dan strategi.
Nabi Muhammad SAW membangun masyarakat Madinah tidak hanya dengan ceramah dan nasihat. Beliau membangun masjid, memperkuat ekonomi umat, menjalin persaudaraan sosial, dan menciptakan sistem yang menopang keberlangsungan dakwah. Semua itu membutuhkan dukungan logistik yang kuat.
Demikian pula para sahabat. Abu Bakar Ash-Shiddiq menginfakkan hampir seluruh hartanya untuk perjuangan Islam. Utsman bin Affan membeli sumur dan membiayai pasukan dalam jumlah besar. Abdurrahman bin Auf menggerakkan kekuatan ekonomi demi kemaslahatan umat. Mereka memahami bahwa kebenaran yang tidak ditopang oleh sumber daya akan sulit bertahan menghadapi tantangan zaman.
Fenomena yang sering terjadi hari ini adalah munculnya kelompok-kelompok yang bersemangat menyerukan perubahan, tetapi mengabaikan pembangunan instrumen sosial, ekonomi, pendidikan, dan kelembagaan.
Akibatnya, semangat itu mudah berubah menjadi kemarahan kolektif yang tidak terarah. Mereka mengetahui apa yang salah, tetapi tidak memiliki sarana untuk membangun apa yang benar.
Di sinilah anarkisme sosial menemukan ruangnya. Ketika masyarakat hanya diajarkan untuk melawan tanpa diajarkan cara membangun, hanya diajarkan kritik tanpa diajarkan solusi, hanya diajarkan semangat tanpa dibekali sistem, maka energi sosial yang besar berpotensi berubah menjadi destruktif.
Peradaban besar tidak lahir dari kemarahan, melainkan dari kemampuan mengorganisasi sumber daya untuk mewujudkan cita-cita bersama. Kebenaran harus berjalan beriringan dengan kemampuan menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat. Dakwah harus mampu menjawab kebutuhan pendidikan, ekonomi, kesehatan, dan kemanusiaan.
Karena itu, sudah saatnya para pegiat dakwah, aktivis sosial, tokoh masyarakat, dan generasi muda memahami bahwa membangun peradaban memerlukan dua sayap yang sama kuat: logika kebenaran dan logistik perjuangan. Salah satu tanpa yang lain akan menciptakan ketimpangan.
Kebenaran yang tidak didukung logistik hanya akan menjadi wacana. Sebaliknya, logistik tanpa kebenaran hanya akan melahirkan kekuatan tanpa arah. Ketika keduanya dipadukan, maka lahirlah masyarakat yang beradab, berkeadilan, dan mampu mewariskan peradaban yang kokoh kepada generasi mendatang.
Inilah pelajaran besar yang diwariskan para nabi dan sahabat kepada umat manusia: bahwa dakwah bukan hanya soal menyampaikan pesan, tetapi juga tentang menyiapkan segala sarana agar pesan itu mampu mengubah kehidupan.(Team)














Tidak ada komentar:
Posting Komentar