• Jelajahi

    Copyright © PK HUKUM
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Advertise

    MENULIS: BUKAN SEKEDAR MENGASAH OTAK, MELAINKAN JUGA MENYEHATKAN JIWA DAN MERAWAT KEJERNIHAN HATI

    ADMINISTRASI
    Kamis, 05 November 2026, 00.31 WIB Last Updated 2026-11-04T15:32:06Z
    masukkan script iklan disini
    masukkan script iklan disini


    Oleh: Muhammad Mas'ud Silalahi

    Bismillahirrohmanirrohiim...

    Ada sesuatu yang istimewa dari aktivitas menulis. Ia bukan sekedar pekerjaan merangkai kata, menyusun kalimat, atau menuangkan gagasan ke atas lembaran kertas. Lebih dari itu, menulis adalah perjalanan batin. Sebuah perjalanan untuk mengenali diri, menyelami kedalaman pikiran, membersihkan kegelisahan jiwa, dan merawat kejernihan hati.

    Dalam kehidupan yang semakin bising oleh suara dunia, manusia sering kali kehilangan kesempatan untuk mendengarkan suara terdalam dari dirinya sendiri. Kita begitu sibuk berbicara, tetapi jarang menyediakan waktu untuk merenung. Kita begitu mudah menilai kehidupan orang lain, tetapi sering lupa membaca keadaan hati sendiri.

    Di sinilah menulis menemukan maknanya yang lebih dalam.

    Menulis dapat menjadi ruang sunyi tempat manusia berdialog dengan dirinya sendiri. Ketika tangan mulai menari di atas keyboard smarphone ataupun laptop serta lembaran kertas dan pikiran mulai menerjemahkan pengalaman menjadi kata-kata, sesungguhnya seseorang sedang melakukan perjalanan ke dalam dirinya. Ia sedang berusaha memahami apa yang dirasakan, mengapa ia terluka, dari mana kegelisahannya berasal, dan ke mana arah kehidupannya hendak dibawa.

    Menulis adalah salah satu cara manusia belajar mendengarkan dirinya sendiri.

    Menulis dan Seni Mengenali Diri

    Jalaluddin Rumi, seorang penyair sufi besar, banyak mengajarkan bahwa perjalanan menuju kebenaran tidak selalu dimulai dengan langkah kaki, melainkan dengan keberanian menyelami kedalaman batin.

    Dalam semangat pemikiran Rumi, manusia tidak cukup hanya mengenal dunia di luar dirinya. Ia juga harus berani memasuki ruang terdalam jiwanya. Sebab, sering kali yang menghalangi seseorang menemukan cahaya bukanlah gelapnya dunia, melainkan kabut yang menyelimuti hatinya sendiri.

    Menulis dapat menjadi salah satu jalan untuk menyingkap kabut tersebut.

    Ketika seseorang menulis tentang kesedihan, ia sedang belajar menerima luka. Ketika menulis tentang kesalahan, ia sedang membuka pintu introspeksi. Ketika menulis tentang kebahagiaan, ia sedang belajar bersyukur. Dan ketika menulis tentang kehidupan, ia sedang berusaha menemukan makna di balik setiap peristiwa.

    Dengan demikian, menulis bukan hanya melatih kecerdasan intelektual, tetapi juga mendidik kedewasaan emosional dan spiritual.

    Sebab, orang yang terbiasa merenungkan kehidupannya akan memiliki kesempatan lebih besar untuk memahami bahwa tidak semua yang menyakitkan harus dibalas dengan kemarahan, tidak semua yang hilang harus diratapi tanpa batas, dan tidak semua yang dimiliki harus dibanggakan secara berlebihan.

    Ada kalanya kehilangan justru mengajarkan keikhlasan. Ada kalanya kesunyian mengajarkan kebijaksanaan. Dan ada kalanya air mata menjadi jalan untuk menemukan kembali kedekatan dengan Tuhan.

    Menulis sebagai Jalan Menuju Kejernihan Hati

    Ibnu Arabi, seorang sufi dan pemikir besar dalam tradisi Islam, mengajak manusia memahami kehidupan melalui keluasan makna keberadaan dan kedalaman pengenalan terhadap Tuhan.

    Dalam cakrawala pemikiran sufistiknya, alam semesta bukan sekedar sesuatu yang dilihat oleh mata, melainkan juga tanda-tanda yang mengundang manusia untuk berpikir, merenung, dan mengenali kebesaran Allah.

    Jika kita membawa semangat perenungan tersebut ke dalam aktivitas menulis, maka setiap pengalaman hidup sesungguhnya dapat menjadi bahan untuk menemukan hikmah.

    Kita bisa menulis tentang hujan, tetapi yang kita renungkan adalah rahmat. Kita bisa menulis tentang kemiskinan, tetapi yang kita cari adalah makna kepedulian. Kita bisa menulis tentang kekuasaan, tetapi yang kita ingat adalah amanah. Kita bisa menulis tentang cinta, tetapi yang kita pelajari adalah ketulusan.

    Pada titik ini, menulis tidak lagi berhenti sebagai aktivitas intelektual. Ia menjadi sarana tafakur.

    Namun, ada satu hal yang perlu dijaga: jangan sampai tulisan justru menjadi tempat ego mencari panggung. Jangan sampai semakin banyak kata yang kita hasilkan, semakin tinggi pula kesombongan yang tumbuh dalam diri.

    Sebab, tulisan yang baik bukan hanya tulisan yang membuat orang lain kagum kepada penulisnya, melainkan tulisan yang mampu mengajak pembaca berpikir, memperbaiki diri, dan mendekat kepada kebaikan.

    Kejernihan hati tidak diukur dari seberapa indah seseorang berbicara tentang Tuhan, tetapi juga dari bagaimana ia memperlakukan sesama manusia.

    Belajar dari Syekh Abdul Qadir al-Jailani: Membersihkan Hati Sebelum Menghiasi Diri

    Syekh Abdul Qadir al-Jailani mengajarkan pentingnya penyucian hati, keikhlasan, dan perjuangan melawan hawa nafsu.

    Pesan sufistik ini sangat relevan dengan dunia jusnalistik.

    Seorang penulis seharusnya tidak hanya sibuk memperindah susunan kata, tetapi juga memperbaiki niat di balik kata-kata tersebut. Sebab, tulisan dapat menjadi jalan kebaikan, tetapi juga dapat menjadi sarana kesombongan apabila lahir dari keinginan untuk dipuji, merasa paling benar, atau merendahkan orang lain.

    Menulis dengan hati berarti berani berkata benar tanpa kehilangan kelembutan. Berani mengkritik tanpa membenci. Berani menyampaikan perbedaan tanpa menghina. Dan berani mengakui kekeliruan tanpa merasa harga dirinya runtuh.

    Di sinilah menulis menjadi latihan akhlak.

    Kita belajar menahan diri sebelum menghakimi. Belajar berpikir sebelum berbicara. Belajar memahami sebelum menyalahkan. Bahkan, belajar diam ketika kata-kata hanya akan memperbesar permusuhan.

    Sungguh, tidak semua yang diketahui harus dituliskan, tidak semua yang dirasakan harus diluapkan, dan tidak semua perbedaan harus dipertentangkan.

    Ada kebijaksanaan yang lahir dari kata-kata, tetapi ada pula kebijaksanaan yang justru tumbuh dari kemampuan menjaga lisan dan tulisan.

    Menulis sebagai Amal yang Menghidupkan Jiwa

    Dalam kehidupan sosial, tulisan memiliki kekuatan yang tidak sederhana. Ia dapat melintasi ruang, waktu, generasi, bahkan zaman.

    Seseorang mungkin telah lama meninggalkan dunia, tetapi pemikirannya tetap hidup melalui tulisan. Seseorang mungkin tidak pernah bertemu dengan pembacanya, tetapi kata-katanya mampu menguatkan hati orang yang sedang terpuruk.

    Betapa indah apabila tulisan menjadi jembatan untuk menyampaikan kasih sayang, menumbuhkan kesadaran, membela kemanusiaan, menyuarakan keadilan, dan mengingatkan manusia kepada Tuhannya.

    Menulis tentang penderitaan orang miskin seharusnya melahirkan kepedulian, bukan sekedar simpati. Menulis tentang ketidakadilan seharusnya menumbuhkan keberanian memperjuangkan kebenaran, bukan sekedar kemarahan. Menulis tentang agama seharusnya melahirkan akhlak dan kasih sayang, bukan kesombongan merasa paling suci.

    Inilah yang patut menjadi orientasi seorang penulis, "menjadikan ilmu sebagai cahaya, kata-kata sebagai jalan kebaikan, dan tulisan sebagai bagian dari pengabdian kepada kehidupan."

    Sebab, pada akhirnya, kualitas tulisan tidak hanya terletak pada banyaknya orang yang membacanya, tetapi juga pada kebaikan yang tumbuh setelah seseorang selesai membacanya.

    Dari Kegaduhan Dunia Menuju Kesunyian yang Mencerahkan

    Kita hidup pada zaman ketika orang berlomba-lomba mendapatkan perhatian. Banyak yang ingin didengar, tetapi sedikit yang sungguh-sungguh ingin memahami. Banyak yang ingin memenangkan perdebatan, tetapi tidak semuanya bersedia memenangkan pertarungan melawan kesombongan dalam dirinya sendiri.

    Maka, menulislah.

    Menulislah ketika pikiran terasa penuh, agar kegelisahan menemukan ruang untuk diurai. Menulislah ketika hati terluka, agar kesedihan tidak berubah menjadi kebencian. Menulislah ketika memperoleh kebahagiaan, agar rasa syukur tidak hilang ditelan kesibukan. Menulislah ketika menyaksikan ketidakadilan, agar nurani tidak terbiasa berdamai dengan keburukan.

    Namun, sesekali berhentilah menulis untuk memeriksa hati.

    Tanyakan kepada diri sendiri: Apakah tulisan ini lahir dari ketulusan atau kesombongan? Apakah ia mendekatkan manusia kepada kebaikan atau justru menambah permusuhan? Apakah ia menjadi cahaya bagi sesama atau hanya menjadi cermin untuk memamerkan kehebatan diri?

    Pertanyaan-pertanyaan semacam ini penting agar aktivitas menulis tidak kehilangan ruh spiritualnya.

    Sebab, manusia yang sungguh-sungguh menempuh perjalanan batin bukanlah manusia yang merasa telah sampai pada kesempurnaan, melainkan manusia yang tidak pernah berhenti memperbaiki dirinya.

    Penutup: Biarlah Tulisan Menjadi Jalan Pulang Menuju Tuhan

    Pada akhirnya, menulis adalah salah satu cara manusia merawat kewarasannya di tengah kegaduhan dunia, menjaga kelembutan hatinya di tengah kerasnya kehidupan, serta mengasah kebijaksanaannya di tengah derasnya arus informasi.

    Kita boleh memiliki kecerdasan yang tinggi, tetapi jangan sampai kehilangan kerendahan hati. Kita boleh memiliki pengetahuan yang luas, tetapi jangan sampai kehilangan kasih sayang. Kita boleh menghasilkan ribuan tulisan, tetapi jangan sampai satu pun dari tulisan itu membuat kita merasa lebih mulia daripada orang lain.

    Belajarlah dari semangat cinta Rumi, keluasan perenungan Ibnu Arabi, dan keteguhan penyucian jiwa Syekh Abdul Qadir al-Jailani.

    Jadikan menulis sebagai jalan mengenali diri, jalan memahami sesama, dan jalan memperbaiki hubungan dengan Allah SWT.

    Sebab, tulisan yang paling bermakna bukanlah tulisan yang sekedar memenuhi ruang-ruang publik, melainkan tulisan yang mampu mengetuk pintu hati manusia.

    Dan barangkali, keberhasilan terbesar seorang penulis bukan ketika namanya dikenal oleh banyak orang, melainkan ketika melalui tulisannya, ada seseorang yang kembali menemukan harapan, ada hati yang kembali menjadi lembut, ada jiwa yang tergerak untuk berbuat baik, dan ada manusia yang semakin dekat kepada Allah.

    Menulislah dengan pikiran yang jernih, berkatalah dengan hati yang bersih, dan hiduplah dengan jiwa yang penuh cinta.

    Karena sesungguhnya, perjalanan terjauh manusia bukanlah perjalanan mengelilingi dunia, melainkan perjalanan dari kesombongan menuju kerendahan hati, dari kebencian menuju cinta, dan dari kelalaian menuju kesadaran akan kehadiran Allah SWT.

    Semoga setiap kata yang kita tuliskan menjadi jalan kebaikan, setiap gagasan menjadi cahaya, dan setiap helai tulisan menjadi bagian dari ikhtiar kita mendekatkan diri kepada-Nya.

    Wallahu a'lam bish-shawab.

    Jalan Cinta MMS
    Medan, 04 November 2026.(Tim)
    Komentar

    Tampilkan

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar

    Terkini

    NamaLabel

    +